Langsung ke konten utama

Muassis dan Awal Berdiri (Pondok Sambong)


Muassis PonPes Al Mimbar adalah KH. Mimbar. Beliau lahir di Jombang pada awal abad 18, tepatnya di tahun 1814 di Desa Sambong. Putra dari KH. Hasan Rifa'i tersebut dilahirkan dan dibesarkan dengan ilmu keagamaan dan kepesantrenan. Lebih cenderung dalam hal Al-Qur’an dan beberapa kitab fiqih ataupun nahwu shorof.

Saat berusia kurang lebih 15 tahun sering sekali Beliau “sowan” atau silaturahmi ke Kyai-Kyai di Jawa Timur. Beberapa di antaranya adalah KH. Muhammad Nur (Pondok Langitan Tuban), KH. Abdul Lathif (Ayah Syaikh Kholil Bangkalan, Madura), KH. Abdus Salam (Gedang, Jombang), dan masih banyak lainnya.

Menginjak usia dewasa, Mbah Mimbar diutus Ayah Beliau untuk pergi haji. Dengan modal Bismillah dan tekad kuat Beliau berangkat dengan cara menumpang kapal milik Saudagar Hindi-Belanda yang saat itu sedang menjajah Nusantara. Atas izin Allah Beliau sampai di Arab dan dapat menunaikan Ibadah Haji.

Di Makkah Beliau bertemu salah satu Syaikh yang berasal dari Indonesia, yakni ”Syaikh Nawawi Al-Bantani”. Melihat kesempatan emas itu Mbah Mimbar berniat untuk menetap sementara di Makkah, sembari belajar pada Syaikh Nawawi. Syaikh Nawawi memiliki beberapa murid yang berasal dari Indonesia saat itu, salah satunya adalah Mbah Kholil Bangkalan. Karena itulah Mbah Mimbar dan Mbah Kholil menjadi sahabat di Makkah. Mereka belajar bersama pada Syaikh Nawawi Al-bantani.

Sampai pada akhirnya, setelah sekitar setahun  setengah Mbah Mimbar belajar di Makkah, Beliau diutus pulang ke Tanah Air oleh Ayahnya dikarenakan Beliau (KH. Hasan rifa’i) sedang sakit.

Sampai di Jombang, Mbah Mimbar melanjutkan perjuangan Ayah Beliau dengan merenovasi masjid dan membangun surau/padepokan kecil. Beliau mengajak beberapa warga Sambong untuk membantu pembangunan, dan akhirnya berdirilah Pondok Sambong. 

Di Pondok tersebut Mbah Mimbar memulai jalan dakwah. Diawali dengan mengajak warga Sambong dan sekitarnya untuk belajar baca tulis arab, hingga mengaji Al-Qur'an. Bahkan Masjid Sambong  menjadi pusat keagamaan di Jombang pada saat itu.

Sedikit demi sedikit murid Mbah Mimbar bertambah, mulai dari Jombang sendiri, hingga ke luar daerah. Kyai Hasyim Asy’ari yang pernah belajar baca Al-Qur’an, Kyai Bisri Syansuri yang juga pernah belajar baca kitab, Kyai Ma’ruf Kedunglo (Kediri) yang juga belajar Tasawuf pada KH. Mimbar.

Sedikit cerita tentang KH. Ma'ruf (Kediri).
KH. Ma’ruf pernah bermimpi, di mimpi Beliau ada seseorang yang mengutus untuk belajar di Sambong, Jombang. Setelah mencari-cari bertemulah Beliau dengan Mbah Mimbar.
Setelah KH. Ma’ruf merasa cukup di Jombang, Beliau pamit pada Mbah Mimbar untuk menerskan belajar pada Syaikh Kholil. Mendapat izin dari Mbah Mimbar, Beliau berangkat dengan berjalan kaki ditemani salah satu Putra Mbah Mimbar yakni Mbah Nur Salim yang ingin sowan ke Syaikh Kholil.
       Singkat cerita, pada suatu hari KH. Ma'ruf diutus oleh Syaikh Kholil untuk mengantar sesuatu kepada sahabatnya, Mbah Mimbar. Sesuatu tersebut adalah 3 ekor burung dara. Di tengah perjalanan menuju Jombang, 2 ekor burung dara tersebut lepas dari sangkar, akhirnya KH. Ma'ruf kembali ke Syaikh Kholil dan menceritakan apa yang terjadi di perjalanan. Kemudian Syaikh Kholil mengatakan, "tolong sampekno marang Mimbar, pondoke gak bakal iso gede, tapi bakal tetep ono santrine", (Pondoknya tidak akan bisa jadi pondok besar, tapi akan tetap ada santri yang mondok di Mbah Mimbar).

Mbah Mimbar wafat pada awal abad 19. Dimakamkan di samping Ayah Beliau, KH. Hasan Rifa'i di Sambong Jombang. Yang saat ini menjadi pemakaman keluarga besar keturunan KH. Mimbar. Beliau memiliki 8 Putra, yaitu : Nur Salim, Maimunah, Cholil, Rifa'i, Marfu'ah, Mu'minah, Husen dan Abdul Mu'id.

Komentar

  1. Saran dan masukan bisa langsung email ponpes.almimbar@gmail.com ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa ya... kira2 yg unik dari pondok sambong..?? Karena pondok sambong termasuk pondok tua tp namanya kalah tenar sperti DU, tambak beras, tebuireng & denanyar.

      Hapus
    2. Masih kalah tua dengan pondok tambakberas, karena tambakberas itu mulai zaman mbah Soikhah buyutnya mbah mbah hasyim asyari dan mbah wahab chasbullah...#

      Hapus
    3. @Yus Ahmad

      Monggo ini dibaca 🙏

      https://anugrainifebi.blogspot.com/2018/11/tokoh-kyai-pondok-pesantren-tertua.html?showComment=1600415385045&m=1#c4839654960995632939

      Hapus
  2. lha iki seng tak dolek i rfrensine.. swon..

    BalasHapus
  3. Terimakasih, sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  4. Aku pernah mondok di mimbar satu setengah tahun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Niki sinten...

      Kulo gih alumni Al Mimbar
      Abdul Muhaimin Malang

      Hapus
  5. Mohon sumbernya juga disertakan, suwun

    BalasHapus
  6. Ass wr wb. Saya angat bangga dan bersyukur Alhamdulillah...bisa dipertemukan keluarga besar bani mimbar.yang mana saya adalah cucu dari KH Rifa'i anak dari KH Mimbar. Semoga Allah Swt senantisa meridhoi niat baik untuk membesarkan Pondo pesantren di Sambong Jombang. Wass wr wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jenengan daleme pundi menawi angsal tolong wa nomer Kulo 085655559755

      Hapus
  7. Semoga Kulo juga mendapat barokah beliau

    BalasHapus

Posting Komentar